Sudah lulus S1 atau S2 atau bahkan S3?
Merasa paling pandai karena sudah menyandang gelar doktor?
Atau karena sudah bertitlekan profesor? Jangan gegabah dahulu dan introspeksi diri karena bisa jadi anda hanya terjebak dalam gelar-gelar tersebut.
Hidup itu belajar
Dari sejak awal manusia dilahirkan, manusia selalu mengalami proses belajar. Selama hidup proses itu tidak akan berhenti. Selalu ada hal-hal yang bisa menjadi obyek pembelajaran, entah itu hal-hal besar maupun hal kecil. Menarik untuk dipelajari dan dipahami.
Banyak diantara kita yang setelah lulus perguruan tinggi merasa sudah cukup untuk menjalani proses "belajar". Padahal, secara tidak sadar, itu juga pembelajaran. Belajar untuk memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain.
Seiring berjalannya waktu, mengikuti perkembangan zaman, proses pembelajaran pun beragam metode. Dengan petuah, nasihat, belajar di intitusi pendidikan, belajar dari teman, belajar dari buku, belajar dari internet, belajar sendiri pun menjadi metode yang lazim digunakan.
Tak masalah bagaimana cara kita mempelajari sesuatu, yang penting adalah ilmu yang didapat dan proses yang dijalani. Karena dari ilmu dan proses yang dijalani inilah kita akan membentuk karakter diri dan pribadi untuk menjalani hari-hari yang penuh pembelajaran.
Anak kecil dan Profesor
Jangan sebut anak kecil sebagai orang yang bodoh dan jangan sebut seorang profesor sebagai orang yang paling pandai. Keduanya tak ada bedanya. Sama-sama masih belajar dan saling belajar satu sama lain.
Suatu ketika ada seorang anak kecil yang diajak ibunya untuk jalan-jalan di sebuah taman kota. Di taman itu terdapat orang-orang yang dengan tujuannya masing-masing datang ke taman tersebut. Si anak merasa senang karena taman kota itu ramai orang.
Lalu si anak dan ibunya duduk di sebuah bangku panjang dimana ada seorang lelaki cukup umur yang duduk di sana sembari membaca sebuah buku. Sang ibu berniat membelikan anaknya itu makanan yang dijual pinggir taman itu, dan ibu itu meninggalkan anaknya duduk di bangku taman.
Si anak merasa bosan dan kesepian, lalu ia mencoba mendekati lelaki yang duduk satu bangku dengan dirinya itu. kemudian bertanya pada lelaki itu, "Kakek, buku apa yang sedang kau baca?"
Sang lelaki itupun menoleh dengan sedikit keheranan dan berkata, "Aku sedang membaca buku mengenai bagaimana merawat anjing dengan baik."
"Kenapa kau ingin membaca buku seperti itu, Kakek?" tanya anak kecil lagi.
Dan lelaki itu menjawab, "Aku ingin memelihara anjing karena yang kutahu anjing itu hewan yang setia. Dan kenapa kau memanggilku dengan sebutan 'Kakek', Nak?"
Si anak menyahut, "Karena rambutmu banyak yang putih seperti kakekku. Hahaha.."
Dengan kesal lelaki itu menjawab, "Aku tidak sama seperti kakekmu, rambutku putih karena aku adalah seorang profesor. Aku sering menggunakan keseharianku untuk meneliti dan berpikir di laboratorium dan inilah akibatnya, rambutku memutih lebih cepat."
Sahut anak kecil, "Oh maafkan aku, aku tidak tahu, Paman. Oh iya, kenapa kau ingin merawat anjing harus membaca buku dahulu? Aku juga memelihara beberapa ekor anjing dan aku tidak pernah membaca buku seperti itu sebelumnya, karena yang kutahu memelihara anjing tidaklah begitu repot, Paman. Jika kau benar-benar ingin memelihara anjing, sayangilah mereka seperti kau menyayangi dirimu. Anjing senang disayangi dan jika Paman merawatnya dengan hati hal itu akan menjadi menyenangkan dan mudah Paman."
Setelah mendengar perkataan anak kecil tersebut, lelaki itu terdiam sejenak dan merenung. Sudah lama sekali ia tidak mendengar pernyataan itu, melakukan sesuatu dengan hati. Kemudian lelaki itu berkata; "Terimakasih, Nak, kau sudah mengajariku hal yang selama ini aku lupakan. Terimakasih."
Ia tersenyum dan bangkit berdiri lalu meninggalkan anak kecil itu sendirian duduk di bangku.
Tak lama kemudian, ibu anak kecil datang dengan membawa bungkusan makanan kemudian memberikan pada anak kecil tadi untuk dimakan. Lalu anak kecil itu berkata dengan polos pada ibunya, "Ibu, ternyata orang yang berambut putih itu belum tentu ia kakek-kakek ya.."
Yaa.. seperti itulah kira-kira bagaimana anak kecil dan profesor saling belajar. Sang anak belajar bahwa apa yang dilihat tak selamanya begitu dan sang profesor belajar bahwa semua hal akan terasa lebih menyenangkan bila dilakukan dengan hati.
Kita sebagai manusia sering melupakan pembelajaran-pembelajaran kecil manakala kita disibukkan dengan pembelajaran besar. Awal dari pembelajaran besar itu ada pada pembelajaran yang kecil yang ada di sekitar kita.
Jangan pernah merasa bodoh ataupun pandai, kita semua sama.
Sama-sama sedang belajar, menjalani proses kehidupan.
Semangat dan berjuanglah, tidak perlu malu kalau kita masih sering salah.
Tak perlu takut kalau kita masih sering gagal dan jatuh.
Dengan melakukan kesalahan, kita belajar mencari dan membuat yang benar.
Dengan jatuh, kita belajar bagaimana caranya untuk berdiri lagi.
Dengan mengalami kegagalan, kita belajar bahwa mencapai kesuksesan itu tak mudah..
Selama masih hidup, belajarlah..
Jangan berhenti belajar, karena dengan banyak belajar kita akan semakin dekat dengan kesuksesan kita...
*adhep



0 komentar:
Posting Komentar